Mengusung Tema "Rejuvenasi Gerakan Perempuan" Konbes Fatayat NU Resmi Dibuka


AMBON, GLOBALTERKINI.COM- Dengan mengusung tema "Rejuvenasi Gerakan Perempuan dari Indonesia Timur" perhelatan Konferensi Besar (Konbes) ke XVI Fatayat NU resmi dibuka.

Dalam pidatonya, Anggia Ermarini
menyampaikan, pemberdayaan perempuan harus merata, salah satu upaya yang dilakukan ialah gerakan Indonesia Timur.

"Ini sekaligus mengingatkan kita, banyak sekali potensi perempuan yang dapat digali dari bagian timur Indonesia, rejuvinasi itu kan artinya peremajaan, jadi kita usung tema ini berharap kita semua akan ada refreshment (penyegaran) dari gerakan komunitas perempuan" Ujar Anggia, Jum'at 27 April 2018

Berlokasi di Ambon kegiatan tersebut akan berlangsung hingga tanggal 30 April, diikuti sebanyak 34 Pengurus Wilayah dan sejumlah Pengurus Cabang dari seluruh Indonesia.

Melihat fenomena akhir-akhir ini, kata Anggia, kemajuan teknologi banyak membuat perempuan hanyut didalamnya, namun tanpa berbuat sesuatu untuk masyarakat, kemajuan itu dianggap belum maksimal penggunaannya untuk pemberdayaan dan menggali potensi perempuan.

Tak hanya itu, Anggia juga menyinggung potensi besar yang dimiliki Indonesia di bagian Timur sungguh luar biasa "Ajang Konbes ini juga kita lengkapi dengan lomba fotografi peran perempuan di sektor ekonomi yang di pamerkan di lokasi acara" Katanya.

Pada Konbes ini, agenda yang dibahas adalah respon problem internal dan eksternal. Problem internal diantaranya tentang kaderisasi dan keorganisasian, program eksternal lebih pada isu terkini yang sifatnya global. Beberapa menteri kabinet Kerja yang mengkonfirmasi kehadirannya sebagai narasumber antara lain, Menpora Imam Nahrawi dan Menteri PDTT Eko Putro Sanjoyo.

Turut hadir dalam acara pembukaan ini adalah Menteri Ristek Dikti RI, Muhammad Natsir. Dia menyampaikan apresiasinya atas peran Fatayat NU selama ini dalam memberdayakan perempuan dan anak di Indonesia. Dalam sektor pendidikan pun Fatayat memiliki peran yang luar biasa.

"Harapan kami pada Fatayat NU cukup besar terutama untuk terus meningkatkan sumberdaya perempuan Indonesia, salah satunya dalam bidang teknologi" terangnya.

Menurutnya, jika perempuan bisa melek teknologi dengan baik terutama para aktivis perempuan, akan sangat membantu sebagai media dakwah. Termasuk juga kemampuan untuk memfiltrasi informasi hoaks. 

"Indonesia sedang masuk dalam fase revolusi industri ke-4 yaitu digitalisasi dan negara kita belum memiliki sebuah sistem integrasi untuk filterisasi media digital, maka kemampuan masyarakat dituntut untuk bisa memahami mana informasi yang benar dan tidak" tambahnya.

Selain itu hadir pula Ketua PBNU Robikin Emhas. Dalam sambutannya, dia menyampaikan bahwa peremajaan gerakan perempuan harus lebih massif dan terukur. 

"Separoh dari problematika bangsa ini termasuk soal anak dan perempuan sehingga peran organisasi perempuan berbasis apapun mutlak diperlukan, dan PBNU mendukung sepenuhnya upaya Fatayat dalam merejuvinasi gerakannya dari Indonesia Timur," jelasnya. 

Ambon adalah pengeksport ikan terbesar didunia, ini potensi yang sungguh luar biasa. Bagi perempuan ini merupakan peluang usaha yang bisa dikembangkan secara beragam sekaligus media untuk memancing potensi-potensi lain yang dimiliki perempuan di wilayah timur Indonesia.

Acara Konferensi Besar Fatayat NU ke XVI ini resmi dibuka oleh Menristek Dikti RI didampingi Ketua PBNU, Ketua Umum Fatayat NU dan Plt Gubernur Maluku Zeth Sahuburua dengan bersama menabuh alat musik tifa, seni khas musik dari Ambon. (Rilis)
Komentar

Berita Terkini