KODEINDONESIA MAKASSAR – Pagi itu, suasana di Jembatan Kembar Gowa terasa berbeda. Udara masih segar, matahari baru mengintip di ufuk timur, dan deru kendaraan belum sepenuhnya memenuhi jalanan.
Di tengah keheningan itu, lima sosok berseragam training bersiap mengayuh sepeda menuju satu tujuan: Markas Komando Satuan Brimob Polda Sulawesi Selatan di Makassar.
Di barisan depan, tampak Kabag Ops Sat Brimob Polda Sulsel, AKBP Nur Ichsan, S.Sos., M.Si.
Jika biasanya ia hanya berdua dalam rutinitas “bike to work”-nya, pagi ini jumlah itu bertambah menjadi lima. Sebuah pertanda sederhana, namun sarat makna—keteladanan yang mulai menular.
Tepat pukul 06.00 WITA, mereka memulai perjalanan. Mengayuh sepeda dari Gowa menuju Makassar, menempuh jarak kurang lebih 11 kilometer, dengan satu tekad yang sama: tiba sebelum apel pagi dimulai.
Bukan sekadar mengejar waktu, tetapi juga meneguhkan komitmen.
Bagi AKBP Nur Ichsan, bersepeda ke kantor bukanlah hal baru. Rutinitas ini telah ia jalani secara konsisten setiap Selasa dan Jumat. Sebuah pilihan yang lahir dari kesadaran, bukan keterpaksaan.
Di tengah tuntutan tugas yang padat, ia tetap menyempatkan diri untuk mengayuh sepeda—sebuah langkah kecil yang membawa dampak besar.
“Ini bagian dari komitmen kami mendukung kebijakan pemerintah terkait efisiensi BBM. Kalau bukan kita yang memulai, lalu siapa lagi,” ungkapnya, Selasa (21 April 2026).
Apa yang ia lakukan bukan sekadar olahraga pagi. Lebih dari itu, ini adalah bentuk nyata dukungan terhadap upaya efisiensi bahan bakar minyak, sekaligus ajakan untuk hidup lebih sehat dan peduli lingkungan.
Setiap kayuhan pedal adalah simbol penghematan energi, setiap tetes keringat adalah bukti komitmen.
Menariknya, apa yang awalnya dilakukan oleh dua orang, kini mulai diikuti oleh personel lain. Dari dua menjadi lima—sebuah pertumbuhan kecil yang menyiratkan pengaruh besar. Tanpa banyak kata, tanpa instruksi formal, keteladanan itu berbicara dengan caranya sendiri.
“Selain menghemat bahan bakar, bersepeda juga membuat tubuh lebih sehat dan bugar. Ini sederhana, tapi dampaknya besar jika dilakukan secara konsisten,” tambahnya.
Perjalanan pagi itu pun bukan sekadar perpindahan dari satu titik ke titik lain. Ia adalah perjalanan nilai—tentang disiplin, kepedulian, dan keberanian untuk memulai perubahan dari diri sendiri.
AKBP Nur Ichsan menunjukkan bahwa menjadi pemimpin bukan hanya tentang memberi perintah, tetapi juga memberi contoh. Bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil, bahkan dari sebuah sepeda yang dikayuh di pagi hari.
Dan di antara jalanan yang perlahan mulai ramai, lima sepeda itu melaju dengan pesan yang jelas: inspirasi itu nyata, dan ia sedang bergerak. (*)