Kadisdik Bone: Sekolah Model BerAmal Wujudkan 3 Sila — Berkarakter, Maju, Unggul


KODEINDONESIA BONE — Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, Edy Saputra Syam, http://S.STP., http://M.Si., menegaskan Sekolah Model BerAmal merupakan gagasan Dinas Pendidikan atas petunjuk Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman dan Wakil Bupati Andi Akmal Pasluddin.

“BerAmal ini kepanjangannya Berkarakter, Maju, dan Unggul. Tiga sila itu yang ingin kita wujudkan di sekolah-sekolah model,” ujar Edy, Sabtu (2/5/2026).


Menurut Edy, penekanan karakter disesuaikan kondisi masing-masing sekolah. Penguatannya bisa dari sisi akademik, kepribadian, maupun keagamaan. 

“Karakter itu sendiri disesuaikan. Sekolah harus dorong apa yang menonjol: akademik, kepribadian, atau agama,” jelasnya.

Untuk sila “Maju”, sekolah didorong aktif mengikuti invitasi dan perlombaan guna meningkatkan SDM. “Harus sering ikut lomba. Kita press betul SDM-nya,” kata Edy.

Sementara “Unggul” berarti unggul di segala sisi. Targetnya bukan hanya siswa, tetapi tenaga pendidik juga harus unggul. Karena itu, tahun ini Disdik Bone mengagendakan banyak pelatihan untuk membekali guru di Sekolah Model BerAmal.

Ada di Tiap Kecamatan, Bukan untuk Persaingan,  
Sekolah Model BerAmal hadir di setiap kecamatan. Khusus wilayah kota ada tiga SD. Total 33 SD dan 4 SMP ditetapkan sebagai sekolah model.

“Tujuannya bukan untuk persaingan antar sekolah. Sekolah yang belum berlabel BerAmal kita dorong mengejar label itu. Kalau tidak mengejar, berpotensi ditinggalkan siswa,” tegas Edy.

Ia menambahkan, semua orang tua ingin anaknya sekolah di sekolah favorit. Tugas Dinas Pendidikan adalah melahirkan sekolah-sekolah favorit di Bone agar tidak ada lagi pilih-pilih sekolah karena dekat rumah atau kualitas guru.


Edy meminta guru mampu memetakan kompetensi siswa, tidak hanya akademik. “Saya dulu hobinya olahraga. Ketika mewakili sekolah, harusnya ada dispensasi tugas. Anak sekarang mewakili sekolah tapi tetap dikejar tugas akademik. Kita tidak dituntut semua jadi profesor. Harus ahli di bidang masing-masing,” katanya.

Ia menyoroti lemahnya matematika dasar siswa saat ini. Jika teori mengharuskan tuntas di sekolah, maka guru harus mampu menuntaskan pelajaran dan memberi penguatan. Edy mencatat, dalam lomba sains, sekolah swasta kerap unggul karena ada pembinaan intensif.


Soal revitalisasi dan digitalisasi, Edy mengakui guru-guru senior masih keteteran. “Mau tidak mau harus siap. Ini risiko. Dulu belajar di luar ruangan sudah hebat, sekarang kalau tidak mampu pakai smartboard yang diberikan Presiden, kita tertinggal,” ujarnya.


Edy menyebut leadership kepala sekolah sebagai indikator utama. “Ada kepala sekolah yang jadi ruh. Dipindah ke mana pun pasti hebat, bisa membranding sekolah jadi favorit. Yang ditinggalkan jatuh. Ini bahaya kalau salah pilih pengganti,” katanya.

Karena itu, mutasi kepala sekolah harus dihitung matang agar tidak merugikan sekolah.


Untuk percepatan, Disdik membentuk tim evaluasi Sekolah Model BerAmal. Evaluasi dilakukan per 3 atau 6 bulan. 

“Sekolah model tidak boleh absen lomba, apalagi olimpiade MIPA dan sains. Kita tekan. Kalau tidak bisa mempertahankan, mundur saja. Nama BerAmal itu jelas: Berkarakter, Maju, Unggul,” tegasnya.

Ke depan, siswa yang masuk sekolah model akan melalui seleksi. “Kalau sudah banyak peminat, pasti ada seleksi masuk,” kata Edy.


Peringatan Hardiknas 2026 juga dimeriahkan Disdik Run yang digagas bersama EO dan Bone Choir. Kegiatan ini menggelorakan semangat hidup sehat dan anti mager tanpa APBD.

Selain itu, digelar lomba olahraga, akademik, dan Expo di Planet Cinema. Siswa memamerkan hasil karya dengan dukungan pihak Planet Cinema yang menyiapkan tempat dan hadiah. 

“Kami hanya dapat poinnya. Ini kolaborasi untuk menghidupkan semangat pendidikan,” tutup Edy.

Melalui Sekolah Model BerAmal, Pemkab Bone menargetkan pemerataan mutu, guru unggul, siswa berprestasi, dan partisipasi orang tua demi mewujudkan pendidikan unggul di Kabupaten Bone.
Komentar

Berita Terkini