Mentan Amran: Stok Beras 26 Juta Ton dan 150 Ribu Pompa Siap Antisipasi El Niño


KODEINDONESIA BONE – Menteri Pertanian RI H. Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menghadapi ancaman El Niño yang berpotensi memengaruhi sektor pertanian dan produksi pangan nasional.

Hal itu disampaikan Amran saat menghadiri kegiatan jalan santai di tanah kelahirannya, Bakungnge, Desa Mappesangka, Kecamatan Ponre, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Minggu 9 Agustus 2026.

*Belajar dari El Niño 2016, 2023, dan 2024*  
Di hadapan awak media, Amran mengatakan pengalaman menghadapi fenomena El Niño pada 2016, 2023, dan 2024 menjadi pelajaran penting bagi pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan.

“El Niño ini kita sudah persiapkan jauh sebelumnya. Dulu ada El Niño 2016, 2023, 2024. Alhamdulillah kita lewat dengan baik,” ujar Amran.

Menurut dia, pemerintah tidak hanya mengandalkan produksi, tetapi juga memperkuat infrastruktur dan sarana pendukung agar produktivitas lahan tetap terjaga, khususnya di wilayah yang rawan kekeringan.

Sejumlah langkah yang disiapkan meliputi distribusi pompa, perbaikan jaringan irigasi, penyediaan benih unggul, hingga program optimasi lahan atau Opla untuk wilayah rawa.

“Kita sudah persiapkan pompa, pompanisasi, irigasi kita perbaiki, kemudian benih unggul kita siapkan, bibit unggul kita siapkan, dan juga ada Opla untuk daerah rawa,” katanya.

  
Amran menilai faktor terpenting dalam menghadapi potensi gangguan produksi akibat El Niño adalah kondisi stok pangan nasional yang saat ini berada pada posisi sangat kuat.

Ia menyebut stok beras yang tersedia saat ini mencapai sekitar 5,2 juta ton. Angka tersebut disebut sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah.

“Yang terpenting adalah stok yang ada sekarang itu 5,2 juta ton, dan itu tertinggi sepanjang sejarah,” tegasnya.

Selain stok di gudang pemerintah, Amran juga memperhitungkan produksi yang masih berada di lahan atau _standing crop_ sebesar kurang lebih 10 juta ton.

“Standing crop kita itu kurang lebih 10 juta ton. Artinya yang ada tanaman sekarang ini, itu dipanen nanti. Sekarang ini sementara panen,” jelasnya.

Pemerintah juga memperhitungkan persediaan beras di rumah tangga serta sektor Horeka, yakni hotel, restoran, dan kafe, yang diperkirakan mencapai 10 hingga 12 juta ton.

Dengan memperhitungkan seluruh komponen tersebut, total ketersediaan beras nasional diperkirakan berada di kisaran 26 juta ton.

“Artinya totalnya 25, 27, katakanlah 26 juta ton beras,” ujarnya.


Dengan kebutuhan konsumsi nasional sekitar 2,6 juta ton per bulan, Amran menyebut stok 26 juta ton tersebut secara matematis mampu mencukupi kebutuhan hingga sekitar 10 bulan.

“Kalau 26 juta ton berarti cukup untuk 10 bulan,” katanya.

Ia merinci, dari Agustus stok diproyeksikan masih mencukupi hingga September, Oktober, November, Desember, Januari, Februari, Maret, April, bahkan Mei. 

Kondisi tersebut semakin diperkuat dengan proyeksi panen puncak pada Maret mendatang.

“Bulan tiga panen puncak lagi, artinya jauh sangat aman. Ini persiapan sangat aman,” kata Amran.

*150 Ribu Pompa Didistribusikan ke Daerah Kering*  
Untuk memperkuat ketahanan produksi, pemerintah juga menggenjot program pompanisasi. Pompa didistribusikan ke berbagai daerah yang mengalami kekeringan agar lahan pertanian tetap mendapat pasokan air.

“Pompa kita distribusi seluruh daerah kering, kita kirim pompa. Dan juga pompa yang kita kirim dua tahun terakhir pemerintahan sampai sekarang, itu totalnya 150.000 unit,” ungkapnya.

Menurut Amran, jumlah tersebut merupakan distribusi pompa dalam skala terbesar yang pernah dilakukan pemerintah.

“Tertinggi, tidak pernah terjadi itu. Jadi semua posisi aman,” tegasnya.

Dari tanah kelahirannya di Bone, Amran menyampaikan optimisme bahwa Indonesia memiliki modal kuat untuk menghadapi tantangan iklim. Bukan hanya melalui peningkatan produksi, tetapi juga dengan memperkuat infrastruktur pertanian, cadangan pangan, serta memastikan air tetap tersedia bagi petani.
Komentar

Berita Terkini