KODEINDONESIA , JAKARTA --Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti Gedung Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada Jumat pagi (1/8), saat Muhammad Arjul, putera kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, resmi meraih gelar Doktor dalam bidang Manajemen Pendidikan.
Dengan penuh percaya diri dan argumentasi ilmiah yang kuat, ia mempertahankan disertasinya di hadapan dewan penguji dalam Sidang Promosi Ujian Terbuka, yang menjadi puncak dari perjalanan akademik panjang dan penuh perjuangan.
Disertasi berjudul “Pengaruh Good University Governance, Kepemimpinan Transformasional, dan Teknologi Digital terhadap Internasionalisasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah” yang dipresentasikan oleh Arjul menggambarkan ketajaman analisis dan komitmennya terhadap pengembangan mutu pendidikan tinggi di Indonesia.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan melibatkan responden dari berbagai kampus Muhammadiyah di Indonesia. Hasilnya menegaskan pentingnya tata kelola universitas yang baik, kepemimpinan yang adaptif terhadap nilai-nilai lokal, dan pemanfaatan teknologi digital dalam memperkuat agenda internasionalisasi pendidikan tinggi, khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM).
Sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. Jafar sebagai Ketua Dewan Penguji, dengan Prof. Dr. Suryadi sebagai Sekretaris dan Kaprodi S3 Manajemen Pendidikan UNJ. Bertindak sebagai promotor adalah Prof. Dr. Awaluddin Tjalla, didampingi ko-promotor Prof. Dr. Nurhattati Fuad. Sejumlah penguji yang hadir berasal dari berbagai latar belakang keilmuan dan institusi, menambah bobot akademik sidang terbuka tersebut,Jakarta, 1 Agustus 2025
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Awaluddin Tjalla menyampaikan apresiasi atas ketekunan dan kontribusi ilmiah Arjul. Ia menyebut bahwa disertasi ini tidak hanya kuat secara teoritis, tetapi juga memberikan arah kebijakan praktis yang sangat dibutuhkan dalam era transformasi global pendidikan tinggi.
“Arjul tidak sekadar menulis, tetapi menawarkan solusi kontekstual yang menjembatani antara nilai-nilai Islam, budaya kolektif, dan tuntutan globalisasi,” ujar promotor yang dikenal sebagai pakar dalam bidang evaluasi dan manajemen pendidikan.
Identitas sebagai putera Bugis dari Bone tidak pernah lepas dari semangat perjuangan Muhammad Arjul dalam menapaki dunia akademik. Nilai-nilai getteng (keteguhan), lempu (kejujuran), dan warani (keberanian) yang diwarisi dari budaya Bugis mengalir dalam setiap langkah penelitiannya. Di tengah tantangan akademik dan dinamika kehidupan, ia tetap konsisten menunjukkan integritas dan dedikasi tinggi.
Keberhasilan Muhammad Arjul menambah deretan akademisi berdarah Bugis yang turut mewarnai panggung intelektual nasional. Dalam pernyataannya usai dinyatakan lulus dengan predikat cum laude, ia menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT, serta terima kasih yang tulus kepada para pembimbing, keluarga, dan semua pihak yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan akademiknya. “Saya persembahkan capaian ini untuk orang tua saya di Bone, tanah kelahiran saya yang membentuk karakter, nilai, dan semangat juang saya hingga hari ini,” ucapnya penuh haru.
Sidang terbuka ini turut dihadiri oleh keluarga besar, sahabat, dan kolega Arjul, baik secara langsung maupun daring. Bahkan, beberapa kolega akademisi dari luar negeri seperti Kamerun, Dubai, dan Malaysia ikut memberikan dukungan melalui platform digital. Kegiatan ini sekaligus menjadi momen yang mempererat jejaring intelektual lintas wilayah dan negara.
Dengan selesainya ujian terbuka ini, Muhammad Arjul resmi menyandang gelar doktor. Sebuah capaian yang tidak hanya membanggakan pribadi dan keluarga, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda Bugis, serta masyarakat Indonesia secara umum, bahwa dengan semangat, disiplin, dan dedikasi, siapa pun dapat menembus batas untuk berkontribusi dalam pembangunan ilmu pengetahuan dan kemajuan bangsa.(*)