KODEINDONESIA BONE– Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, akan menjadi lokasi pembangunan Hilirisasi Ayam Terintegrasi atau HAT. Proyek ini tidak hanya diarahkan sebagai pengembangan sektor peternakan, tetapi juga diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru dan bagian dari penguatan stok protein nasional.
General Manager Corporate Secretary & CSR PT Berdikari, A.S. Hasbi Al Islahi, mengatakan pembangunan HAT di Bone merupakan bagian dari program unggulan Kementerian Pertanian yang tengah didorong menjadi program strategis nasional.
Menurut Hasbi, investasi tahap awal pembangunan HAT di Bone mencapai sekitar Rp627 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk membangun tiga unit bisnis utama.
“Yang pertama adalah farm PS, Parent Stock, jadi indukan dengan kapasitas 168.000 ekor. Yang kedua feed mill atau pabrik pakan dengan kapasitas 10.000 ton per bulan. Kemudian hatchery dengan kapasitas 500.000 per minggu,” kata Hasbi.
Ia menjelaskan, pembangunan di Bone merupakan bagian dari investasi HAT secara nasional yang nilainya mencapai sekitar Rp18 triliun. Pada tahap pertama, pemerintah menyiapkan sekitar Rp2,3 triliun untuk sejumlah lokasi, termasuk Bone, Nusa Tenggara Barat, Malang, Lampung, dan Gorontalo.
“Artinya hampir 27 persen itu digelontorkan di Bone,” ujarnya.
*Pendekatan Bisnis, Bukan Sekadar Proyek*
Hasbi menegaskan, HAT harus dipandang sebagai bisnis yang berorientasi pada keberlanjutan. Investasi besar negara harus menghasilkan aktivitas ekonomi yang terus berputar.
“Pembangunan ini tidak sekadar project semata, project unggulan Kementan, bukan. Tetapi ini masuk ke pendekatan business approach,” tegasnya.
Efisiensi, inovasi, dan keberlanjutan menjadi faktor penting. “Jangan sampai kita investasi kemudian mangkrak. Kita pastikan bahwa ini adalah the real business,” katanya.
Ia menyebut efek berganda dari investasi ini sangat besar. Pembangunan feed mill dan farm Parent Stock akan menjadi bagian dari rantai produksi hingga produk olahan.
“Yang keluar itu salah satunya meat processing, karkas, sosis dan sebagainya. Bayangkan akan berapa triliun multiplier effect-nya terasa di masyarakat,” ujarnya.
Keberadaan industri tersebut diharapkan menciptakan lapangan kerja sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat Bone. Tenaga kerja yang terserap pada tahap awal diperkirakan lebih dari 1.000 orang.
“168.000 ekor itu tenaga kerjanya bisa di atas 300 orang. Itu baru farm, belum hatchery, belum feed mill,” kata Hasbi.
Ia juga menekankan pentingnya melibatkan UMKM dan infrastruktur ekonomi masyarakat dalam ekosistem bisnis HAT.
“Kita akan melibatkan infrastruktur masyarakat, UMKM untuk memutar ekonomi. Ini yang lebih menarik,” ujarnya.
Menurutnya, hilirisasi akan meningkatkan nilai tambah karena produksi tidak berhenti pada bahan baku. “Yang akan keluar dari Bone itu bukan hanya barang baku dan barang setengah jadi, tapi barang jadi. Contohnya meat processing, ready to eat, ayam frozen, sosis dan daging,” katanya.
PT Berdikari berharap Bone tidak hanya menjadi lokasi produksi, tetapi berkembang sebagai hub distribusi protein untuk kawasan Indonesia Timur.
“Bone harus jadi hub, harus menjadi jembatan untuk mendistribusikan ke Indonesia Timur. Ini tantangan terbesarnya. Jadi kita jangan terlalu eksklusif, harus inklusif,” katanya.
Infrastruktur pendukung seperti cold storage juga harus disiapkan agar distribusi produk antarwilayah berjalan baik dan tidak menimbulkan ketimpangan pasokan.
HAT juga diarahkan mendukung program Makan Bergizi Gratis atau MBG, sekaligus memperkuat ketersediaan protein nasional. “Output dari HAT ini tidak sekadar kita mendukung MBG, tetapi kita ingin juga menjadi stok protein nasional,” katanya.
Saat ini proyek HAT Bone masih berada pada tahap perizinan dan persiapan studi kelayakan atau feasibility study. Tim konsultan dari Sucofindo dan Surveyor Indonesia dijadwalkan turun ke Bone untuk pengumpulan data. Studi ditargetkan rampung dalam 30 hari.
“Setelah itu tahap berikutnya selesai di akhir bulan, di pertengahan minggu kedua September, maka kita akan masuk ke konsultan konstruksi. Itu juga kajian cepat dan mudah-mudahan di Oktober sudah bisa terbangun,” ujarnya.
Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang atau PKKPR telah terbit. Dokumen lingkungan UKL-UPL atau AMDAL sedang dipersiapkan bersama Universitas Hasanuddin. Kendala yang masih menjadi perhatian adalah perpanjangan Hak Guna Usaha pada lahan yang disiapkan PTPN I.
Hasbi juga mendorong Pemkab Bone mempertimbangkan pembentukan BUMD hilirisasi peternakan untuk membangun RPHU dan industri pengolahan pada tahap berikutnya.
*Ajak Masyarakat Mengawal*
Hasbi meminta masyarakat Bone ikut mengawal pembangunan agar investasi negara berjalan sesuai tujuan dan tidak terganggu praktik yang menghambat efisiensi.
“Saya ingin masyarakat Bone menyambut ini. Kita tongkrongin bersama, kita plototi. Karena jangan sampai ini jadi kontraproduktif,” katanya.
“Betul-betul harus diplototi, kita harus efisien. Tidak boleh ada orang yang malak-malak, tidak boleh ada premanisme, sehingga bisnis efisien dan sustained,” tegasnya.
Dengan investasi Rp627 miliar, tiga unit bisnis utama, potensi penyerapan lebih dari 1.000 tenaga kerja, serta peluang pengembangan RPHU dan industri pengolahan, HAT di Bone diharapkan menjadi ekosistem bisnis dari hulu hingga hilir yang meningkatkan nilai tambah, membuka lapangan kerja, menggerakkan UMKM, memperkuat ketahanan protein, dan menempatkan Bone sebagai simpul distribusi pangan untuk Indonesia Timur.